Aku terbangun sebagai sepasang
gunting yang tumpul,
mencoba memotong arah mata angin yang sedang
mabuk.
Di kepalaku, ada sebuah pesta pernikahan antara
seekor telepon umum dan sebuah
lubang sumur.
Kenapa jari-jariku berubah menjadi
barisan korek api yang
basah?
Aku mencoba mengetik pesan di atas permukaan air tenang,
tapi yang keluar justru suara
mesin jahit
yang sedang
patah hati.
Seseorang datang membawa nampan berisi
potongan
langit sore,
ia memaksaku memakannya dengan
sendok yang terbuat dari suara klakson.
"Permisi," kataku pada sebuah bayangan di tembok.
Tapi bayangan itu justru sibuk
mengupas kulitnya sendiri,
menunjukkan bahwa di dalamnya hanya ada
tumpukan kartu remi yang hilang
angka tujuhnya.
Aku tidak punya wajah.
Wajahku sedang dipinjam oleh sebuah jam dinding
untuk menunjukkan pukul
tiga belas lewat sepuluh kancing baju.
Gravitasi = Sepasang Sepatu yang Berisi Nasi Uduk
Lihatlah ke dalam lemari es itu.
Di sana, ada sebuah rahasia yang sedang
kedinginan.
Bukan cinta, bukan benci.
Hanya sebuah remote TV yang mencoba belajar terbang
menggunakan sayap yang ditenun dari
rambut nenek sihir.
Aku ingin lari,
tapi lantai ini berubah menjadi deretan
gigi
yang sedang sikat gigi.
Aku ingin diam,
tapi udara di sekitarku mulai berteriak
dalam bahasa
Lampu Neon yang Berkedip.
Kenapa kemejaku terasa seperti sedang memeluk sebuah
kegagalan?
Kenapa napasku berbau seperti buku matematika
yang tenggelam di
laut mati?
[!] STATUS: TIDAK ADA SIAPA-SIAPA DI DALAM SAYA
Jika kau bertemu dengan diriku yang lain,
tolong berikan dia sebuah kantong plastik berisi
suara tawa bayi.
Karena aku sedang sibuk menjadi sebuah titik
yang menolak untuk mengakhiri kalimat ini.
(Gubrak)
(Krasak)
(Cis)
Ternyata, dunia ini hanyalah sebuah
kelereng
yang sedang dimainkan oleh
seekor kucing yang matanya adalah
dua buah
lubang kunci
yang tidak punya
pintu.