← kembali

✂ Catatan dari Saku
Celana Tuan Kosong

[ sistem_kehilangan_identitas.exe ]
Aku terbangun sebagai sepasang gunting yang tumpul, mencoba memotong arah mata angin yang sedang mabuk. Di kepalaku, ada sebuah pesta pernikahan antara seekor telepon umum dan sebuah lubang sumur.
Kenapa jari-jariku berubah menjadi barisan korek api yang basah? Aku mencoba mengetik pesan di atas permukaan air tenang, tapi yang keluar justru suara mesin jahit yang sedang patah hati.
Seseorang datang membawa nampan berisi potongan langit sore, ia memaksaku memakannya dengan sendok yang terbuat dari suara klakson.
"Permisi," kataku pada sebuah bayangan di tembok. Tapi bayangan itu justru sibuk mengupas kulitnya sendiri, menunjukkan bahwa di dalamnya hanya ada tumpukan kartu remi yang hilang angka tujuhnya.
Aku tidak punya wajah. Wajahku sedang dipinjam oleh sebuah jam dinding untuk menunjukkan pukul tiga belas lewat sepuluh kancing baju. Gravitasi = Sepasang Sepatu yang Berisi Nasi Uduk Lihatlah ke dalam lemari es itu. Di sana, ada sebuah rahasia yang sedang kedinginan. Bukan cinta, bukan benci. Hanya sebuah remote TV yang mencoba belajar terbang menggunakan sayap yang ditenun dari rambut nenek sihir.
Aku ingin lari, tapi lantai ini berubah menjadi deretan gigi yang sedang sikat gigi. Aku ingin diam, tapi udara di sekitarku mulai berteriak dalam bahasa Lampu Neon yang Berkedip.
Kenapa kemejaku terasa seperti sedang memeluk sebuah kegagalan? Kenapa napasku berbau seperti buku matematika yang tenggelam di laut mati? [!] STATUS: TIDAK ADA SIAPA-SIAPA DI DALAM SAYA Jika kau bertemu dengan diriku yang lain, tolong berikan dia sebuah kantong plastik berisi suara tawa bayi. Karena aku sedang sibuk menjadi sebuah titik yang menolak untuk mengakhiri kalimat ini.
(Gubrak) (Krasak) (Cis)
Ternyata, dunia ini hanyalah sebuah kelereng yang sedang dimainkan oleh seekor kucing yang matanya adalah dua buah lubang kunci yang tidak punya pintu.