Puisi
Autopsi
Sebuah Jalan
sebuah pemeriksaan atas sesuatu yang tidak memiliki
sertifikat kelahiran maupun sertifikat kematian
Malam ini kota membuka dadanya sendiri.
Lampu jalan menggantung seperti jarum operasi
yang lupa apa yang sedang diperbaiki.
Di ruang yang tidak memiliki jendela,
dua kursi saling berhadapan
seperti saksi yang menolak berbicara.
Ada sesuatu yang dulu hidup di antara mereka —
sesuatu yang sekarang
hanya tersisa sebagai suhu.
Jam dinding berdetak seperti alat monitor
yang perlahan kehilangan garisnya.
Aku mencoba menjahit langit
dengan benang dari kata-kata yang tidak pernah selesai,
tapi setiap simpul berubah menjadi lubang
yang menelan cahaya.
Mungkin beberapa hubungan
tidak mati karena luka.
Mereka mati
karena jantungnya tidak pernah belajar
berdetak dengan ritme yang sama.
Di luar, hujan turun
seperti arsip yang dihancurkan.
Nama-nama larut di selokan malam
dan hanyut menuju tempat
di mana kenangan tidak lagi membutuhkan tubuh.
Aku berdiri cukup lama
untuk menyadari satu hal yang aneh:
Kadang cara paling lembut
untuk menyelamatkan seseorang
adalah berhenti
menjadi tempat mereka tinggal.
Jadi aku mematikan lampu terakhir di ruangan itu
dan membiarkan pintu menutup sendiri —
bukan sebagai kekalahan,
melainkan sebagai operasi sunyi
agar seseorang
bisa hidup lebih lama
di dunia yang tidak lagi memerlukan bayanganku.
∴ selesai