← kembali

Anatomi Titik yang
Saling Memunggungi

[ koordinat_tidak_bertemu.sys ]
Di luar sana, musim gugur sedang mencabuti bulu-bulu dari sayap seekor lokomotif. Aku ingin menemuimu, tapi kakiku adalah dua buah guling yang diisi dengan kerikil dan suara radio statis. Setiap kali aku melangkah, lantai ini berubah menjadi lidah yang menjilat telapak kakiku dengan rasa cuka.
Kau adalah bau bensin di tengah upacara pemakaman. Sangat tajam, tapi tidak bisa kupeluk tanpa membuat paru-paruku menjadi tumpukan koran basah.
Lihatlah tangan kita. Jari-jariku adalah deretan pensil yang sudah patah arangnya. Jari-jarimu adalah rintik gerimis yang terbuat dari air raksa. Jika kita bersentuhan, yang lahir bukan kehangatan, tapi sebuah lubang di tengah peta yang membuat semua kota kehilangan arah pulangnya.
Ada sebuah lemari di tenggorokanku. Isinya adalah kancing-kancing baju yang kau lepaskan saat kau memutuskan untuk menjadi asap. Aku mencoba menelannya, tapi kancing itu berubah menjadi sekawanan lalat yang membawa kabar tentang kematian warna biru di matamu.
Kita adalah sepasang bayangan yang dilemparkan oleh dua matahari yang berbeda. Berada di lantai yang sama, tapi tidak pernah bisa saling menindih. Kau melengkung ke arah utara yang isinya hanya tumpukan gigi palsu, aku melengkung ke arah selatan yang isinya hanya bau cat yang belum kering.
Tidak ada ruang. Tidak ada waktu. Hanya ada suara gesekan antara kulit jeruk dan kawat berduri di dalam kepalaku.
Jika kau mendengar suara ketukan di jendela kamarmu, itu bukan aku. Itu adalah bayanganku yang sedang mencoba menukar nyawanya dengan sebutir kelereng yang pecah. Sebab di mana pun kita diletakkan, kita hanyalah dua buah kutub magnet yang sama-sama terbuat dari penyesalan yang sudah membatu.