Di luar sana, musim gugur sedang
mencabuti bulu-bulu
dari sayap seekor
lokomotif.
Aku ingin menemuimu,
tapi kakiku adalah dua buah guling yang diisi dengan
kerikil dan
suara radio statis.
Setiap kali aku melangkah,
lantai ini berubah menjadi
lidah
yang menjilat telapak kakiku dengan rasa
cuka.
Kau adalah
bau bensin di tengah upacara pemakaman.
Sangat tajam,
tapi tidak bisa kupeluk tanpa membuat paru-paruku
menjadi tumpukan
koran basah.
Lihatlah tangan kita.
Jari-jariku adalah deretan pensil yang sudah
patah arangnya.
Jari-jarimu adalah rintik gerimis yang terbuat dari
air raksa.
Jika kita bersentuhan,
yang lahir bukan kehangatan,
tapi sebuah
lubang di tengah peta
yang membuat semua kota kehilangan
arah pulangnya.
Ada sebuah lemari di tenggorokanku.
Isinya adalah kancing-kancing baju yang kau lepaskan
saat kau memutuskan untuk menjadi
asap.
Aku mencoba menelannya,
tapi kancing itu berubah menjadi sekawanan
lalat
yang membawa kabar tentang kematian
warna biru di matamu.
Kita adalah sepasang
bayangan
yang dilemparkan oleh dua matahari yang berbeda.
Berada di lantai yang sama,
tapi tidak pernah bisa saling
menindih.
Kau melengkung ke arah utara yang isinya hanya
tumpukan
gigi palsu,
aku melengkung ke arah selatan yang isinya hanya
bau cat yang
belum kering.
Tidak ada ruang.
Tidak ada waktu.
Hanya ada suara gesekan antara
kulit jeruk dan
kawat berduri
di dalam kepalaku.
Jika kau mendengar suara ketukan di jendela kamarmu,
itu bukan aku.
Itu adalah bayanganku yang sedang mencoba menukar nyawanya
dengan sebutir
kelereng yang pecah.
Sebab di mana pun kita diletakkan,
kita hanyalah dua buah
kutub magnet
yang sama-sama terbuat dari
penyesalan yang sudah membatu.