Hari ini,
gravitasi sedang cuti melahirkan.
Aku melihat seekor
piano sedang memanjat pohon pepaya,
ia mencari
suara yang hilang ditelan oleh
mesin cuci semalam.
Di tanganku, ada sebuah gelas berisi
cahaya lampu
yang diperas sampai
kering,
rasanya seperti
besi berkarat,
tapi baunya seperti
doa yang kedaluwarsa.
Kenapa kepalaku terasa seperti sebuah
laci
yang isinya cuma
sikat gigi dan
kartu ceki?
Aku mencoba membuka mulut untuk
menyanyi,
tapi yang keluar justru sebaris
semut rangrang
yang membawa
penggaris kayu.
Mereka ingin mengukur berapa panjang
rindu yang dibutuhkan
untuk membuat sebuah jembatan dari
tepung terigu.
Logika = Sepasang Sandal Jepit ÷ Lampu Neon yang Sedang Menangis
Lihat ke bawah.
Lantai ini bukan lagi keramik, tapi tumpukan
kertas koran
yang ditulis dengan
air bening.
Setiap kali aku melangkah, ada suara
kaca pecah di dalam perutku.
Bukan karena lapar, tapi karena aku baru saja menelan
sebuah
kompas yang jarumnya selalu menunjuk ke arah
lubang telingaku sendiri.
"Tok, tok, tok."
Siapa di sana?
Tidak ada.
Hanya ada sebuah
dasi yang mencoba mencekik leher
botol kecap.
Mereka sedang merayakan hari lahir sebuah
titik koordinat
yang tidak punya tempat di
peta.
Di pojok ruangan,
sebuah
payung sedang mencoba belajar berenang
di dalam
cangkir kopi.
Ia tidak basah. Ia justru
terbakar oleh rasa sepi
yang suaranya seperti
klakson kapal di tengah
gurun pasir.
[!] PERINGATAN: CAIRAN OTAK BERUBAH MENJADI SIRUP COCO PANDAN
Aku ingin menjadi sebuah
kata benda yang tidak bisa disentuh,
seperti
bau bensin di tengah hujan,
atau seperti rasa takut seekor
ikan pada air yang terlalu
jernih.
Tapi aku justru terjebak menjadi sebuah
kabel USB
yang mencoba mengisi daya pada sepotong
tempe goreng.
Kenapa duniaku miring ke arah suara
radio yang mati?
Kenapa langit di sini warnanya seperti
buku tulis
yang dicorat-coret oleh
balita yang sedang marah?
Jangan cari aku di dalam paragraf ini.
Aku sudah pindah ke dalam sebuah
kotak sepatu
yang isinya adalah
napas seseorang
yang sudah lupa
namanya sendiri.
(Cret)
(Pyarr)
(Hening yang berisik)
Ternyata,
bernapas itu hanyalah cara kita untuk menunda
menjadi sebuah
patung yang terbuat dari
mentega.
Di sudut kiri atas kesadaranmu,
ada seekor
burung hantu yang matanya diganti dengan
dua buah
bola lampu yang
mati suri.
Ia sedang membaca surat kabar yang tulisannya
terbuat dari
asap rokok dan
kebohongan manis.
Aku mencium bau
plastik terbakar.
Ternyata itu adalah
masa depan yang sedang dimasak
dengan api
kompor gas yang sudah
kedaluwarsa.
∞ × 0 = SEPASANG KAUS KAKI YANG HILANG DI MESIN CUCI
[ LOADING REALITY.EXE ... ]
[ ERROR 404: MEANING NOT FOUND ]
[ SYSTEM CRASH IN 3... 2... 1... ]
Apakah kau mendengar suara
jangkrik yang sedang mengetik?
Mereka sedang menulis
puisi tentang
bagaimana rasanya menjadi
titik pada
sebuah kalimat yang tidak pernah
selesai.
Aku adalah
kesalahan ketik
di dalam buku diary
Tuhan.
Aku adalah
koma yang terselip di antara
nafas dan
kematian.
(Akhirnya, kita semua hanyalah)
STOPKONTAK TANPA LUBANG
(yang menunggu colokan yang tidak akan pernah datang)