← KELUAR DARI DIMENSI INI

MANIFES:
PERJAMUAN DI DALAM
LUBANG STOPKONTAK

[ HARI INI GRAVITASI SEDANG CUTI MELAHIRKAN ]
Hari ini, gravitasi sedang cuti melahirkan. Aku melihat seekor piano sedang memanjat pohon pepaya, ia mencari suara yang hilang ditelan oleh mesin cuci semalam.
Di tanganku, ada sebuah gelas berisi cahaya lampu yang diperas sampai kering, rasanya seperti besi berkarat, tapi baunya seperti doa yang kedaluwarsa.
Kenapa kepalaku terasa seperti sebuah laci yang isinya cuma sikat gigi dan kartu ceki? Aku mencoba membuka mulut untuk menyanyi, tapi yang keluar justru sebaris semut rangrang yang membawa penggaris kayu.
Mereka ingin mengukur berapa panjang rindu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah jembatan dari tepung terigu.
Logika = Sepasang Sandal Jepit ÷ Lampu Neon yang Sedang Menangis
Lihat ke bawah. Lantai ini bukan lagi keramik, tapi tumpukan kertas koran yang ditulis dengan air bening. Setiap kali aku melangkah, ada suara kaca pecah di dalam perutku. Bukan karena lapar, tapi karena aku baru saja menelan sebuah kompas yang jarumnya selalu menunjuk ke arah lubang telingaku sendiri.
"Tok, tok, tok." Siapa di sana? Tidak ada. Hanya ada sebuah dasi yang mencoba mencekik leher botol kecap. Mereka sedang merayakan hari lahir sebuah titik koordinat yang tidak punya tempat di peta.
Di pojok ruangan, sebuah payung sedang mencoba belajar berenang di dalam cangkir kopi. Ia tidak basah. Ia justru terbakar oleh rasa sepi yang suaranya seperti klakson kapal di tengah gurun pasir.
[!] PERINGATAN: CAIRAN OTAK BERUBAH MENJADI SIRUP COCO PANDAN
Aku ingin menjadi sebuah kata benda yang tidak bisa disentuh, seperti bau bensin di tengah hujan, atau seperti rasa takut seekor ikan pada air yang terlalu jernih.
Tapi aku justru terjebak menjadi sebuah kabel USB yang mencoba mengisi daya pada sepotong tempe goreng. Kenapa duniaku miring ke arah suara radio yang mati? Kenapa langit di sini warnanya seperti buku tulis yang dicorat-coret oleh balita yang sedang marah?
Jangan cari aku di dalam paragraf ini. Aku sudah pindah ke dalam sebuah kotak sepatu yang isinya adalah napas seseorang yang sudah lupa namanya sendiri.
(Cret) (Pyarr) (Hening yang berisik)
Ternyata, bernapas itu hanyalah cara kita untuk menunda menjadi sebuah patung yang terbuat dari mentega.
Di sudut kiri atas kesadaranmu, ada seekor burung hantu yang matanya diganti dengan dua buah bola lampu yang mati suri. Ia sedang membaca surat kabar yang tulisannya terbuat dari asap rokok dan kebohongan manis.
Aku mencium bau plastik terbakar. Ternyata itu adalah masa depan yang sedang dimasak dengan api kompor gas yang sudah kedaluwarsa.
∞ × 0 = SEPASANG KAUS KAKI YANG HILANG DI MESIN CUCI
[ LOADING REALITY.EXE ... ] [ ERROR 404: MEANING NOT FOUND ] [ SYSTEM CRASH IN 3... 2... 1... ]
Apakah kau mendengar suara jangkrik yang sedang mengetik? Mereka sedang menulis puisi tentang bagaimana rasanya menjadi titik pada sebuah kalimat yang tidak pernah selesai.
Aku adalah kesalahan ketik di dalam buku diary Tuhan. Aku adalah koma yang terselip di antara nafas dan kematian.
(Akhirnya, kita semua hanyalah) STOPKONTAK TANPA LUBANG (yang menunggu colokan yang tidak akan pernah datang)