Puisi ini mengandung konten absurd dan surealisme ekstrem yang dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, atau interpretasi yang sangat personal.
Penafsiran dan makna dari karya ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab atas efek halusinasi mental, eksistensial crisis, atau pemahaman yang muncul dari pembacaan.
Di sini, di dalam tenggorokan hari Minggu,
Oksigen adalah barang antik yang dipajang di etalase toko tutup.
Aku memotong-motong bayanganku sendiri,
menyajikannya dengan saus penyesalan yang terlalu banyak garam.
f(x) = sunyi × ∞Lihat!
Ada kereta api yang melaju di urat nadiku,
masinisnya adalah seekor burung gagak yang lupa cara terbang.
Stasiunnya?
Tidak ada.
Hanya ada papan pengumuman yang menuliskan:
"Harap antre untuk menjadi tidak ada."(Ssst... dengar tidak?)
Suara keramik retak di dalam kepalamu itu?
Itu adalah cita-cita yang terlalu lama disimpan di dalam kulkas.
Membeku.
Membiru.
Menjadi fosil yang ditertawakan oleh kecoak-kecoak penyair.
Aku menulis surat pada gravitasi:
"Tolong lepaskan aku sekali saja."
Tapi gravitasi sedang sibuk menghitung
jumlah rambut yang jatuh dari kepala
orang-orang yang sedang jatuh cinta.
Satu.
Dua.
Nol.
Di pojok ruangan, masa lalu sedang mencuci piring.
Prang!
Satu piring pecah, satu memori hilang.
Apakah kau mencium bau kabel terbakar?
Itu adalah sirkuit logika kita yang hangus
karena mencoba memahami mengapa pagi selalu datang
tanpa permisi.
Jangan cari aku di dalam kamus.
Aku terselip di antara spasi dua kata
yang tidak pernah berani kau ucapkan.
Aku adalah titik yang ingin menjadi lingkaran,
tapi selalu berakhir sebagai tanda tanya yang
patah.
1 + 1 = Luka(Matematika ini valid di planet yang tidak punya matahari).