Puisi ini mengandung konten absurd dan surealisme ekstrem yang dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, atau interpretasi yang sangat personal.
Penafsiran dan makna dari karya ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab atas efek halusinasi mental, eksistensial crisis, atau pemahaman yang muncul dari pembacaan.
Satu jam lagi adalah seekor ubur-ubur
yang tersangkut di kabel telepon.
Ia menyengat ingatanmu
sampai kau lupa warna ibumu.
[WARNING: DATA CORRUPTION]
Di atas meja, ada sepiring matahari goreng.
Setengah matang.
Kuningnya meleleh ke lantai,
menjadi sungai kecil yang mengalirkan
semua janji manis yang kedaluwarsa tahun lalu.
Kenapa pintu ini menghadap ke dalam diri sendiri?
Ketuklah.
Tidak ada siapa-siapa,
kecuali suara radio yang menyiarkan
detak jantung seekor semut yang sedang depresi.
√Rindu = Angka Nol yang BerdarahLihat ke bawah.
Kakimu tidak ada.
Mereka sudah pergi ke pasar,
membeli satu liter udara
untuk mengisi paru-paru yang bocor karena
terlalu banyak menghirup abu dari
pembakaran SURAT CINTA UNTUK TUHAN.
(Jangan berkedip)
Jika kau berkedip, dunia akan bergeser
dua milimeter ke arah kiri.
Dan kau akan bangun sebagai sebuah
lubang kunci yang kehilangan
pintunya.
Klakson mobil di luar sana berbunyi...
"Aku lapar," katanya."Aku lapar," katanya.
Tapi bensinnya hanyalah air mata dari
mesin ATM yang sedang patah hati.
Mati.
Hidup.
Mati.
Restart.
Apakah kau sudah cukup gila?
Atau kau butuh sedikit lagi bumbu
dari tumpahan tinta
yang tidak sengaja menggambar
peta menuju
TEMPAT DI MANA SEMUA HAL BERHENTI BERNAMA.