Di mana ada dua buah hening yang saling bertabrakan,
di sanalah letak sebuah titik yang tidak punya bayangan.
Aku berada di dalam jarak antara dua tarikan napas
yang tidak pernah bertemu.
Bukan sebagai udara,
tapi sebagai sebuah kesalahan dalam perhitungan angka nol.
Keberadaan di sini hanyalah sebuah arah
yang selalu berputar membelakangi dirinya sendiri.
Jika kau melangkah ke depan,
kau justru akan menemukan bekas telapak kaki
yang ditinggalkan oleh suara yang belum pernah diucapkan.
A k u t i d a k s e d a n g p e r g i .
Aku hanya sedang terjadi
di tempat yang tidak memiliki koordinat.
Setiap kali kau mencoba mengingat warnaku,
ingatlah tentang bagaimana rasanya kehilangan sebuah kata
yang bahkan belum sempat terpikirkan
oleh bahasa mana pun.
Bayangkan sebuah bidang datar yang hanya memiliki satu sisi.
Aku adalah sudut yang mencoba melengkung
namun justru berakhir menjadi
sebuah ketiadaan yang simetris.
Tidak ada berat.
Tidak ada ringan.
Hanya ada sebuah selisih antara ada dan hampir.
Jangan mencari aku di dalam penglihatan,
karena aku adalah celah di antara setiap kedipan mata.
Jangan mencari aku di dalam pendengaran,
karena aku adalah getaran dari kebungkaman yang paling terik.
Jika suatu saat kau merasakan sebuah kehadiran
yang terasa seperti sebuah lubang yang dibungkus oleh kekosongan,
maka itu bukanlah aku.
Itu hanyalah sisa dari sebuah tanda tanya yang sudah menemukan jawabannya
namun tetap memilih untuk menghilang.
Semua posisi telah digeser.
Semua letak telah dihapus.
Sekarang, aku hanyalah sebuah garis yang memotong dirinya sendiri
hingga menjadi sebuah titik yang tidak bisa dibagi lagi.
HENING
bukan karena suara telah hilang —
tapi karena tempat di mana suara itu seharusnya ada,
telah berubah menjadi sebuah ketidakmungkinan yang luas.