Aku meminjam napas dari tabung gas yang
bocor,
supaya setiap kali aku bicara, ada
ledakan kecil di paru-paru.
Lantai di bawah kakiku sudah berubah jadi
rawa madu hitam,
semakin aku ingin lari, semakin aku menjadi
fosil yang berdiri tegak.
"Jangan tutup matamu," kata kancing kemejaku yang ketiga,
"Nanti dunia ini tertiup angin dan jadi debu di dalam kopimu."
Aku menjahit bibirku dengan benang
layangan,
supaya teriakanku tidak lepas dan menabrak burung-burung di langit.
Di punggungku, ada sebuah
lemari besi yang isinya cuma udara kosong,
tapi beratnya melebihi seribu tahun
penyesalan yang belum dibayar.
Aku bertemu dengan tukang gali kubur yang sedang memahat
patung es,
dia menatapku dengan mata yang isinya cuma
angka nol.
Lalu dia bertanya dengan suara yang bunyinya seperti
kaca pecah:
"Butuh alesan apa lagi yang bikin kamu kuat bertahan?"
Aku terdiam.
Jantungku yang sudah berubah jadi
jam beker rusak mendadak berdering.
Aku membuka mulut, tapi yang keluar bukan kata-kata,
melainkan serombongan
semut merah yang membawa bendera putih.
"Aku bertahan," jawabku lewat telinga kiri,
"Karena aku takut kalau aku jatuh, bumi ini akan kehilangan titik tumpunya."
Si tukang gali kubur tertawa, kepalanya berubah jadi
balon gas,
"Bodoh! Bumi ini bulat, dia tidak butuh tiang yang sudah patah sepertimu."
Aku melihat ke bawah.
Kaki-kakiku sudah berubah jadi
akar yang memeluk pipa air bawah tanah.
Aku tidak bisa pergi. Aku tidak bisa mati.
Aku hanya sebuah
monumen lelah yang dipaksa tetap berdiri
oleh rasa takut bahwa
"berhenti" adalah dosa yang tidak punya ampunan.
Lalu hujan turun dalam bentuk
tinta hitam,
menuliskan daftar beban baru di atas kulitku yang sudah penuh
coretan.
Aku menarik napas panjang,
tapi oksigennya sudah berubah jadi
jarum jahit.